Soekarno kehilangan lukisan

mencari lukisan Soekarno (silkscreen on arches paper - 12.5 X 16cm - 2colors - 5editions - 2016) copy

Adalah seri karya yang membicarakan tentang sejarah dan pengetahuan seni rupa Indonesia, khususnya pada tahun 1940 – 1960-an yang berangkat dari koleksi karya seni milik Soekarno.

Karya ini adalah pengembangan dari proyek KW2 yang saya lakukan di tahun 2010. KW2 sendiri adalah proyek yang ide awalnya membicarakan tentang isu seni rupa kontemporer, khususnya lukisan dan seni grafis di Indonesia. Pada projek ini saya membuka kemungkinan untuk mengembangkan baik dari segi gagasan, sampai pada bentuk visual /cara presentasinya. Selepas projek KW2 saya menemukan beberapa hal menarik yang merupakan pengembangan dari ide awal projek ini.

Beberapa hal menarik yang menjadi kegelisahan saya adalah;

  • kurang atau tidak berfungsinya peran museum Negara dalam memberikan pengetahuan tentang seni rupa kepada masyarakat luas,
  • buruknya sistem Negara dalam menjaga koleksi seni Negara (terutama koleksi lukisan Sukarno), sampai kepada tidak jelasnya tentang keberadaan koleksi tersebut, yang dikabarkan beberapa lukisannya hilang.

Semua karya yang kubuat dalam seri ini berangkat dari lukisan Rudolf Bonnet, saya mengembangkan bentuk visual dari tokoh tokoh yang ada didalam lukisan tersebut kedalam level dan cerita yang lain.

Soekarno Loss his Paintings

is a work of series which examinating about one of Indonesian visual art history, focusing in year between 1940-1960. This project departed from Soekarno’s collection of paintings. Soekarno is founding fathers of Indonesian nationalist and former Indonesian president, also a huge national collector.

This project developed from my previous “KW 2”, started in 2010. “KW 2” had an initial idea to exploring about contemporary visual art issues, mostly between the painting and printmaking in Indonesia. In this project I opened any possibilities and had experimenting from the idea, form and how to present it. After this project, I have been interested in some issues, which also became my curiosity.

Some points are :

-There is lack and no function of state/national museum as a formal and establish art insttution, in a role to public education about art, both in history and contemporary. 

-There is no system or very bad system from state to maintaining of national collection, also in Soekarno’s collection. Many of them are unacounted and unknown where them are. Some rumours said, it’s sold by smuggled.

I am interested to started this project one of Soekarno collection of painting by Rudolf Bonet, depicting about harvesting. In this painting there were some of figure that I borrow to convey the story based on my intepretation.

memotong padi - rudolf bonnet

Menurut saya membahas tentang hilangnya koleksi Sukarno sangat penting, karena hilangnya lukisan bukan hanya secara fisik sehingga tidak lagi dapat kita lihat dan apresiasi, tapi juga hilangnya pengetahuan dan sejarah seni sebagai situs perjuangan bangsa. Pembentukan bangsa Indonesia dan rasa nasionalisme yang salah satunya lewat seni, tidak terlepas dari peran seniman. Pada masa pemerintahan Sukarno, yang juga dikenal sebagai salah satu kolektor senirupa terbaik, seniman memiliki posisi yang penting sebagai para pemberi gagasan dan ide untuk membentuk karakter bangsa Indonesia. Pada projek ini saya ingin membahas isu tentang sejarah dan pengetahuan seni rupa Indonesia sampai kepada permasalahan yang ada pada sistem Negara dalam mengapresiasi dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas melalui seni rupa.

In my opinion, this issue is important because the disappearance of these paintings collection not only by physically which not able to seen and appreciated anymore. In Soekarno era, who was also known as one of the best collectors, artists have an important role to convey their nation, mostly about nationalist and mediated by their artworks.

This also can portray about the loss of art history and common knowledge, mostly about nationalism which had became the main issue at that era. The shaping of Indonesian nationalism in a certain sense was formed by the visual art, also inseparable from the role of the artists.

In this project I am interested to discuss about the state institution and art system of art and their role to disseminate knowledge of Indonesian art history.

soekarno kehilangan lukisan #8 (silkscreen on arches paper - 44 X 44cm - 3colors - 4editions - 2016)

soekarno kehilangan lukisan #7 (silkscreen on arches paper - 44 X 44cm - 3colors - 4editions - 2016)

soekarno kehilangan lukisan #6 (silkscreen on arches paper - 44 X 44cm - 3colors - 4editions - 2016)

soekarno kehilangan lukisan #5 (silkscreen on arches paper - 44 X 44cm - 3colors - 4editions - 2016)

soekarno kehilangan lukisan #1 (silkscreen on arches paper - 76 X 52cm - 3colors - 4editions - 2016)

soekarno kehilangan lukisan #2 (silkscreen on arches paper - 76 X 52cm - 3colors - 4editions - 2016)

soekarno kehilangan lukisan #3 (silkscreen on arches paper - 76 X 52cm - 3colors - 4editions - 2016)

soekarno kehilangan lukisan #4 (silkscreen on arches paper - 76 X 52cm - 3colors - 4editions - 2016)

Advertisements